Urang Awak jadi Juru Masak Raja Arab
Laki-laki ini merupakan salah satu perantau Minang yang hampir sepanjang hidupnya dilalui di tanah suci Mekkah. Dia menceritakan tentang kisah hidupnya sehingga kini dengan berstatus warganegara Arab Saudi yang sudah menetap selama 75 tahun di Mekkah dengan usia yang sudah 85 tahun. Dia sangat menikmati bicara dalam bahasa Minang dengan kami, nyaris tidak ada yang salah atau terpengaruh oleh bahasa Arab, bahasa Minang-nya betul-betul lancar bagai air mengalir dengan dialek Kurai, Bukittinggi yang kental.
Walaupun sudah menjadi warga Kota Mekkah, namun dia tidak pernah mengaku sebagai orang Arab, status kewarganegaraan boleh-boleh saja berubah,
“Ambo tatap jadi urang awak, rumah di Aua Kuniang Bukiktinggi, dunsanak masih banyak di sinan kami lai ado rencana ka pulang, (Saya etap orang awak, rumah di Aua Kuniang Bukittinggi. Keluarga masih banyak di situ, ada rencana hendak pulang),” katanya mantap.
Yang mengesankan dia fasih bicara bahasa Minang sungguhpun belum tentu dia bisa lakukan sekali dalam setahun, sebab lawan bicaranya (urang awak) jarang bertemu, paling-paling di musim haji. Sehari-hari di rumah mereka berbahasa Arab dan tak satupun anak dan cucunya bisa berbaha Minang.
Ibarat pepatah “Setinggi-tinggi terbang bangau, akan kembali ke kubangan”. Ini selalu diibaratkan kepada pemuda perantau minang kemana pun dia pergi suatu saat kelak akan kembali ke kampung halaman di Ranah Minang. Falsafah merantau biasanya akan lahir ketika seorang bujang (pemuda) merasa dirinya belum berguna di kampung.
Walau hanya dengan bermodal motivasi dan semangat, tujuan ke rantau adalah sebuah harapan dan tentu motivasi untuk mengbah corak sosial ekonomi, bahkan status diri dan keluarga.
Tapi bagi H. Syamsuddin, asal Bukittinggi ini, merantau baginya justeru tanpa rencana, apalagi motivasi sebuah tekad dan harapan, karena ketika meninggalkan kampung halaman, usianya masih sangat muda, bahkan terbilang kanak-kanak 10 tahun.
Dia meninggalkan Aur Kuning ketika masih asyik dalam dunia bermain. Masuk sawah mengirik padi, main layangan. Tapi, suatu hari eteknya mengajaka untuk menemani naik haji ke Mekkah. Syamsuddin kecil jelas tak menolak, yang terpikir waktu itu adalah indahnya perjalanan dan Mekkah, kelak jika pulang pengalaman ini akan diceritakan kepada teman sepermainan.
Pelayaran dengan kapal api uap dari Telukbayur ke Jeddah hampir sebulan lamanya. Ternyata itu adalah awal nasib dan jalan hidupnya berubah. Ironisnya dia tidak lagi dapat pulang ke kampung halaman nun jauh di seberang benua. Peristiwanya bermula ketika di tanah suci dia yang belum tahu apa-apa, kecuali merengek kepada etek (tante). Rupanya Allah SWT memberikan cobaan paling berat, orang yang dicintainya itu meninggal dunia dalam menunaikan ibadah haji.
Hidup adalah misteri, tidak tahu mau kemana arah kehidupan masa datang. Syamsudin selain belum punya pengetahuan dan ketrampilan, sulitnya lagi kemampuan berkomunikasi dengan berbahasa asing seperti bahasa Arab tidak diketahuinya.
Ketika semua orang sudah meninggalkan Mekkah untuk kembali ke tanah air, dia bingung mau ke mana. Akhirnya dia berfikir untuk tidak pulang, bergelandang di sekitar Masjidil Haram, sekadar untuk makan tidak jadi masalah karena banyak juga orang yang kasihan dan memperhatikannya.
Akhirnya sampai pada suatu ketika dia bekerja serabutan membantu seorang saudagar mengemasi barang jualannya. “Gaji paling banyak 2 Riyal sa-hari,” kenangnya.
Ketika mulai remaja, seorang pengusaha asal Bugis mengajaknya untuk bekerja di dapur yang menyiapkan makanan untuk tamu di istana raja Arab Saudi. Hanya kesungguhan yang membuatnya harus menggali potensi dirinya. Hidup adalah pengalaman belajar untuk mencari skill, learn by experiences. Mulai meraut bawang sampai menggiling bumbu dikerjakannya sendiri. Itulah modal awal hidupnnya.
Ketika musim haji datang silih berganti, dia mencari jemaah asal Minang. “Ambo tanyoan baa caro mambuek randang, asam padeh, kalio bantai ka amai-amai nan datang naik haji (Saya tanyakan bagaimana cara membuat rendang, asam peas, gulai daging kepada ibu-ibu yang datang naik haji),” ceritanya.
Pengalaman dengan uji coba resep itu kemudian disuguhkan untuk tamu-tamu raja di istana. “Semua meuji. Enak!”. Menurutnya masakan Minang ternyata diakui dunia cita rasanya.
Sejak itulah Syamsudin terkenal sebagai juru masak di Mekkah. Dia diangkat oleh seorang tauke catering untuk memasak kebutuhan jemaah haji, terutama dari Indonesia. Dan, dia pun berkenalan dengan seorang janda juga asal Bukittinggi yang bertemu di Mekkah, mereka sepakat menikah.
Dari pernikahannya itu dikarunia anak dan dan kini sudah bemenantu, semua orang asing. Ada dari Palestina, Malaysia dan Arab. Rumahnya yang ditempati sekarang adalah hasil jerih payah selama di rantau. Dia sudah beberapa kali pulang ke kampung, pernah suatu kali dibawanya pulang anak, menantu dan 14 orang cucu.
Pada usia senjanya dia masih ingin menjenguk tanah kelahirannya, sayangnya tiket pesawat susah mendapatkannyapada masa sekarang ini. Ia ingin berbagi pengalaman dengan sanak saudaranya di kampung. Tiga orang anak laki-laki Syamsudin kini sudah punya kedudukaan di perusahaan asing, bank dan wiraswasta sukses di Mekkah.
“Saya sudah pensiun. Uang masih ada, anak-anak memberi uang pula,” katanya.
Dengan tongkat di tangan, bersama menantunya asal Palestina dan Kelantan Malaysia dia mengantar kami sampai ke halaman rumah Palestina. Tatapan matanya haru jauh menerawang ke ujung dunia sana Ranah Minang nan permai.
sumber : http://www.hariansinggalang.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=4086&Itemid=287








Saya bangga mendengar kisah urang awak ini. Saya juga keturunan urang awak yang sudah ke 4 generasinya tinggal di Sumut.
Ashar tanjung
April 21, 2009
Makasih ya, masih ingat sama kampung halaman.. Banyak yang perlu kita buat untuk kampung kita…
serbainformasi
April 27, 2009